Selasa, 19 Februari 2013

KEHIDUPAN ROHANI



KEHIDUPAN ROHANI
Pada waktu kita percaya kepada Yesus dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Raja, sejak saat itu dalam hati kita mengalir aliran air hidup. Yohanes 4:14 ketika Yesus berbicara dengan perempuan Samaria, Yesus menawarkan air yang apabila diminum akan mengalir aliran air hidup –mata air sampai kepada hidup yang kekal. Dalam Yohanes 7:37-39 juga dijelaskan mengenai air kehidupan. Bahwa ketika kita percaya kepada perkataanNya maka akan ada aliran air hidup.
Itulah sebabnya didalam Yehezkiel 47:1-12 menjelaskan tentang sungai yang keluar dari bait suci. Ketika kita sebagai umat Tuhan terus menjaga aliran air hidup yang kita milii maka kita akan menjadi sebuah sungai yang kemana saja kita pergi akan ada kehidupan disana. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat. Itulah sebabnya bagaimana cara gereja berdampak bukanlah dengan melakukan kegiatan sosial atau memperbanyak jam ibadah. Tuhan berkeinginan untuk kita menaikkan level air dalam rumah Tuhan. Dengan setiap pribadi mengalami terus kehidupan di dalam dirinya maka mata air itu akan terus mengalir. Dengan mengalirnya mata air, ketika umat Tuhan menyatu, maka menjadi sebuah sungai yang tak dapat diseberangi.
Namun apa yang terjadi, seringkali dalam perjalanan profetis yang kita lalui, ada yang berhenti di tengah jalan. Kalaupun tidak berhenti sepertinya kehilangan api dan menjadi suam. Bahkan banyak yang akhirnya menjadi agamawi belaka. Sering kita mendengar istilah kehilangan cinta mula-mula. Mengapa bisa terjadi hal yang demikian? Kenapa mata airnya kotor dan mampet?
Normalnya makin lama kita ikut Tuhan harus makin kuat. Makin lama ikut Tuhan makin berhikmat dan penuh semangat. Passion Ilahi makin bergelora. Kehausan dan kerinduan akan Tuhan menjadi semakin besar dan berkobar.
Namun inilah yang seringkali terjadi, Yeremia 2:13, kita meninggalkan sumber air dan menggali kolam yang bocor. Terputusnya hubungan dengan Tuhan dan bocornya kehidupan kita menjadi penyebab kekeringan dalam kehidupan kita. Sehingga kita seperti Yehezkiel 37 yang menceritakan tentang tulang-tulang kering. Tulang kering ini harus dihidupkan kembali.
Inilah ciri-ciri orang yang mengalami kematian rohani (kesuaman-kekeringan) :
1. Kehilangan minat terhadap hal-hal yang Ilahi (Rohani)
Kehilangan minat atau selera terhadap hal yang rohani. Kita lebih tertarik kepada acara-acara duniawi. Kalaupun pelayanan, yah jangan yang menyusahkan atau membayar harga lebih. Kita menjadi cenderung dingin terhadap hal rohani. Kita berhenti berdoa. Kita berhenti membawa Firman. Kita berhenti untuk mendengar cd-cd khotbah. Kita mulai menjalani kehidupan yang biasa. Jika tubuh kehilangan nafsu makan artinya kita sakit. Demikian pula secara rohani.
2. Terputus dari persekutuan yang Hidup dengan Tuhan dan menjadi agamawi
Atau kita masih melakukan semua aktifitas rohani namun sudah tidak ada lagi kobaran Roh di dalam kita. Kita masih melakukannya namun tidak ada lahi hasrat yang menggebu-gebu. Kita mulai merasa terbiasa. (familiar). Oh sudah tau, oh sudah pernah dengar, oh saya masih lakukan kok. Namun sejujurnya kita masih melakukan aktifitasnya tanpa ada roh di dalamnya, inilah keagamawian.
3. Menggantikan hal yang prinsip dengan hal yang tidak prinsip.
Kita mulai meributkan warna baju apa yang boleh dipakai ketika kita melayani. Kita ribut dengan makanan apa yang boleh atau tidak boleh dimakan. Kita menjadi bertengkar karena hal yang tidak prinsipil. Terjadi perpecahan hanya karena yang satu menginginkan natal dengan nasi kotak, yang satu lagi mau makan prasmanan. Kita meributkan hal yang tidak prinsipil dan melupakan hal yang menjadi esensi.
Faktor apa yang membuat kita bisa kehilangan minat, menjadi agamawi dan pada akhirnya menjadi ribut dengan hal yang tidak prinsipil?
A. Faktor Kebutuhan Hidup.
Seringkali faktor kebutuhan hidup membuat banyak orang kehilangan minat terhadap hal-hal rohani. Kita hanya semangat mendengar kata uang, mobil baru, rumah baru. Faktor kebutuhan ekonomi membuat banyak orang kehilangan gairah terhadap hal rohani. Faktor ini membuat kita bekerja kerasw sampai kehabisan tenaga sehingga tidak memiliki waktu dan ruang untuk kerohanian kita. Mimpi manusiawi yang belum terwujud membuat kita bekerja sedemikian dan mengabaikan kehidupan roh kita.
B. Faktor Friksi, Sakit hati atau Konflik Batin
Banyak orang muda khususnya yang berhenti berjalan bersama Tuhan karena kekecewaan terhadap pemimpin atau pendeta mereka. Tuntutan yang berlebihan membuat kita kecewa ketika melihat kondisi kehidupan seorang hamba Tuhan tertentu. Inilah yang banyak membunuh kerohanian kita.
C. Faktor Lingkungan dan Keluarga
Menjadi sering sekali terjadi akibat salah bergaul, seseorang bisa menjadi suam dan apatis terhadap kebenaran. Sangat penting untuk memiliki komunitas atau teman pergaulan. Seringkali kita menjadi mati rohani atau suam karena ki8ta tidak rela kehilangan teman main game kita, teman main futsal kita. Inilah yang menyebabkan banyak kesuaman dan kemerosotan rohani terjadi.
Ketika keluarga kita belum percaya dan kita sudah percaya duluan kepada Tuhan, seringkali orang tua kita mengucapkan penyataan-pernyataan atau buah pikiran yang nampaknya secara manusiawi benar dan masuk akal namun bertentangan dengan Firman Tuhan. Misalkan : untuk apa sih pelayanan jauh-jauh sampai ke Papua, di Jawa saja masih banyak gereja dan orang percaya. Akhirnya membunuh semangat kita untuk memuirdkan bangsa-bangsa. Atau juga untuk apa kamu sungguh-sungguh, lihat si A tidak sungguh-sungguh, mobilnya 6, rumahnya 3. Sudahlah hidup ini butuh kenyamanan bukan melulu disibukkan dengan hal-hal rohani.
4. Faktor Salah Memilih Teman Hidup
Ada banyak keluarga yang pada masa lajang (sebelum menikah) adalah pelayan Tuhan yang radikal namun setelah menikah hilang dari peredaran Sorga dan tidak diketahui rimbanya ada dimana. Mengapa demikian? Menikahi orang yang salah. Maaf, tidak bisa bercerai, namun harus bisa diatasi. Oleh sebab itu hai para lajang, sebelum menikah, pastikan calon istri atau calon suamimu benar-benar takut akan Tuhan dan berasal dari DNA rohani yang sama. Bila tidak, kita akan melihat rumah tangga kita lebih dekat ke neraka dari pada di Sorga. Jangan terjebak dengan umur yang bertambah dan asal pilih demi sebuah status. Jangan terjebak juga hanya kepada penampilan luar. Saya sering mendengar banyak orang berkata bahkan termasuk para pendeta, iya kalau masih lajang, kita bisa ikut Tuhan dengan bebas, kemana saja, pasti bisa. Kalau sudah beristri tidak bisa, apalagi kalau sudah punya anak. Sepertinya benar namun Kristus tidak mengajarkan dan menanamkan prinsip itu. Paulus pun tidak membenarkan hal yang demikian. Kita harus memastikan istri dan anak kita juga sama-sama haus akan Tuhan dan hidup bagi tujuanNya.
5. Faktor Kepemimpinan Gereja yang Tidak Bertumbuh
Ada banyak orang yang tulus hati dan cinta kebenaran dalam gereja namun dipimpin oleh pemimpin yang tidak bertumbuh. Hanya memiliki pewahyuan dari zaman sekolah Theologia tahun 1960. Akibatnya tidak bisa membawa jemaat dalam terobosan rohani. Saya tidak menginginkan pemberontakan atau kudeta. Namun kita tidak bisa terus ada dalam sebuah bisa yang parkir. Karena sebagus apapun bis itu, tidak akan kemana-mana. Kita tidak bisa menaiki perahu yang bocor sebab akan tenggelam. Untuk yang sudah bergereja, pastikan pemimpin kita terus bertumbuh. Dorong pemimpin kita bisa mengikuti acara yang berbobot dan mengubahkan. Jangan ajak ke sembarang seminar yang hanya propaganda manusia atau denominasi semata. Untuk yang belum bergereja pastikan memilih gereja yang bukan sedang parkir dan tidak kemana-mana.
Dari mana kita tahu gereja tersebut parkir ? Sederhana dari tahun ke tahun acaranya adalah Kebaktian awal tahun, valentine day, paskah, retret penjangkauan-KKR, natal. Puluhan tahun seperti itu haruslah kita bertanya apakah Tuhan tidak bergerak lagi atau kita yang sudah malas untuk bergerak? Tema kotbah pun tidak beranjak dari berkat, kesuksesan, 7 langkah menuju berkat, 9 langkah mencapai sukses dan 10 langkah diampuni. Untuk dasar awal okelah, namun kalau setiap minggu selama 52 minggu topik kotbahnya berputar seperti itu, apakah Tuhan masih berbicara?
Kekasih Tuhan, mari alami kembali aliran air kehidupan. Jangan biarkan kolam kita bocor. Jangan kehilangan gairah terhadap hal-hal yang Ilahi. Kobarkan karunia Allah yang ada pada kita lagi. Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati maka Kristus akan bercahaya atasmu.
Biarlah sekali lagi Tuhan menghembuskan nafas kehidupan supaya kita kembali bergerak dan menjadi tentara yang besar bagi kerajaanNya. Biarlah kita menjadi tulang kering yang dihidupkan kembali. Biarlah kita tidak menggenapi seperti kuburan yang dilabur putih ataupun dikatakan hidup tetapi mati. Pastikan ada nafas kehidupan Tuhan dalam kehidupan roh kita. Pastikan air itu kembali mengalir dan membual-bual dalam kehidupan kita.
Saya berdoa untuk setiap pembaca yang mulai suam, kendor atau kering mulai mengalami kembali gairah rohani-kebangkitan rohani. Jangan biarkan apapun mengambil apa yang paling berharga dalam kehidupan kita. Yang paling berharga adalah Tuhan, Tuhan dan Tuhan. Jangan biarkan apapun mengambil waktu kita terbaik denganNya. Jangan biarkan apapun menyita perhatian kita lebih dari pada Dia. Jangan biarkan apapun dan siapaun memutuskan kita dari persekutuan yang hidup denganNya.
Selamat hidup dalam Kehidupan Rohani!