KEHIDUPAN
ROHANI
Pada waktu kita percaya kepada Yesus
dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Raja, sejak saat itu dalam hati kita
mengalir aliran air hidup. Yohanes 4:14 ketika Yesus berbicara dengan perempuan
Samaria, Yesus menawarkan air yang apabila diminum akan mengalir aliran air
hidup –mata air sampai kepada hidup yang kekal. Dalam Yohanes 7:37-39 juga
dijelaskan mengenai air kehidupan. Bahwa ketika kita percaya kepada
perkataanNya maka akan ada aliran air hidup.
Itulah sebabnya didalam Yehezkiel 47:1-12
menjelaskan tentang sungai yang keluar dari bait suci. Ketika kita sebagai umat
Tuhan terus menjaga aliran air hidup yang kita milii maka kita akan menjadi
sebuah sungai yang kemana saja kita pergi akan ada kehidupan disana. Buahnya
menjadi makanan dan daunnya menjadi obat. Itulah sebabnya bagaimana cara gereja
berdampak bukanlah dengan melakukan kegiatan sosial atau memperbanyak jam
ibadah. Tuhan berkeinginan untuk kita menaikkan level air dalam rumah Tuhan.
Dengan setiap pribadi mengalami terus kehidupan di dalam dirinya maka mata air
itu akan terus mengalir. Dengan mengalirnya mata air, ketika umat Tuhan
menyatu, maka menjadi sebuah sungai yang tak dapat diseberangi.
Namun apa yang terjadi, seringkali
dalam perjalanan profetis yang kita lalui, ada yang berhenti di tengah jalan.
Kalaupun tidak berhenti sepertinya kehilangan api dan menjadi suam. Bahkan
banyak yang akhirnya menjadi agamawi belaka. Sering kita mendengar istilah
kehilangan cinta mula-mula. Mengapa bisa terjadi hal yang demikian? Kenapa mata
airnya kotor dan mampet?
Normalnya makin lama kita ikut Tuhan
harus makin kuat. Makin lama ikut Tuhan makin berhikmat dan penuh semangat.
Passion Ilahi makin bergelora. Kehausan dan kerinduan akan Tuhan menjadi
semakin besar dan berkobar.
Namun inilah yang seringkali terjadi,
Yeremia 2:13, kita meninggalkan sumber air dan menggali kolam yang bocor.
Terputusnya hubungan dengan Tuhan dan bocornya kehidupan kita menjadi penyebab
kekeringan dalam kehidupan kita. Sehingga kita seperti Yehezkiel 37 yang menceritakan
tentang tulang-tulang kering. Tulang kering ini harus dihidupkan kembali.
Inilah ciri-ciri orang yang mengalami
kematian rohani (kesuaman-kekeringan) :
1. Kehilangan minat terhadap hal-hal
yang Ilahi (Rohani)
Kehilangan minat atau selera terhadap
hal yang rohani. Kita lebih tertarik kepada acara-acara duniawi. Kalaupun
pelayanan, yah jangan yang menyusahkan atau membayar harga lebih. Kita menjadi
cenderung dingin terhadap hal rohani. Kita berhenti berdoa. Kita berhenti
membawa Firman. Kita berhenti untuk mendengar cd-cd khotbah. Kita mulai
menjalani kehidupan yang biasa. Jika tubuh kehilangan nafsu makan artinya kita
sakit. Demikian pula secara rohani.
2. Terputus dari persekutuan yang
Hidup dengan Tuhan dan menjadi agamawi
Atau kita masih melakukan semua
aktifitas rohani namun sudah tidak ada lagi kobaran Roh di dalam kita. Kita
masih melakukannya namun tidak ada lahi hasrat yang menggebu-gebu. Kita mulai
merasa terbiasa. (familiar). Oh sudah tau, oh sudah pernah dengar, oh saya
masih lakukan kok. Namun sejujurnya kita masih melakukan aktifitasnya tanpa ada
roh di dalamnya, inilah keagamawian.
3. Menggantikan hal yang prinsip
dengan hal yang tidak prinsip.
Kita mulai meributkan warna baju apa
yang boleh dipakai ketika kita melayani. Kita ribut dengan makanan apa yang
boleh atau tidak boleh dimakan. Kita menjadi bertengkar karena hal yang tidak
prinsipil. Terjadi perpecahan hanya karena yang satu menginginkan natal dengan
nasi kotak, yang satu lagi mau makan prasmanan. Kita meributkan hal yang tidak
prinsipil dan melupakan hal yang menjadi esensi.
Faktor apa yang membuat kita bisa
kehilangan minat, menjadi agamawi dan pada akhirnya menjadi ribut dengan hal
yang tidak prinsipil?
A. Faktor Kebutuhan Hidup.
Seringkali faktor kebutuhan hidup
membuat banyak orang kehilangan minat terhadap hal-hal rohani. Kita hanya
semangat mendengar kata uang, mobil baru, rumah baru. Faktor kebutuhan ekonomi
membuat banyak orang kehilangan gairah terhadap hal rohani. Faktor ini membuat
kita bekerja kerasw sampai kehabisan tenaga sehingga tidak memiliki waktu dan
ruang untuk kerohanian kita. Mimpi manusiawi yang belum terwujud membuat kita
bekerja sedemikian dan mengabaikan kehidupan roh kita.
B. Faktor Friksi, Sakit hati atau
Konflik Batin
Banyak orang muda khususnya yang berhenti
berjalan bersama Tuhan karena kekecewaan terhadap pemimpin atau pendeta mereka.
Tuntutan yang berlebihan membuat kita kecewa ketika melihat kondisi kehidupan
seorang hamba Tuhan tertentu. Inilah yang banyak membunuh kerohanian kita.
C. Faktor Lingkungan dan Keluarga
Menjadi sering sekali terjadi akibat
salah bergaul, seseorang bisa menjadi suam dan apatis terhadap kebenaran.
Sangat penting untuk memiliki komunitas atau teman pergaulan. Seringkali kita
menjadi mati rohani atau suam karena ki8ta tidak rela kehilangan teman main
game kita, teman main futsal kita. Inilah yang menyebabkan banyak kesuaman dan
kemerosotan rohani terjadi.
Ketika keluarga kita belum percaya
dan kita sudah percaya duluan kepada Tuhan, seringkali orang tua kita
mengucapkan penyataan-pernyataan atau buah pikiran yang nampaknya secara
manusiawi benar dan masuk akal namun bertentangan dengan Firman Tuhan. Misalkan
: untuk apa sih pelayanan jauh-jauh sampai ke Papua, di Jawa saja masih banyak
gereja dan orang percaya. Akhirnya membunuh semangat kita untuk memuirdkan
bangsa-bangsa. Atau juga untuk apa kamu sungguh-sungguh, lihat si A tidak
sungguh-sungguh, mobilnya 6, rumahnya 3. Sudahlah hidup ini butuh kenyamanan
bukan melulu disibukkan dengan hal-hal rohani.
4. Faktor Salah Memilih Teman Hidup
Ada banyak keluarga yang pada masa
lajang (sebelum menikah) adalah pelayan Tuhan yang radikal namun setelah
menikah hilang dari peredaran Sorga dan tidak diketahui rimbanya ada dimana.
Mengapa demikian? Menikahi orang yang salah. Maaf, tidak bisa bercerai, namun
harus bisa diatasi. Oleh sebab itu hai para lajang, sebelum menikah, pastikan
calon istri atau calon suamimu benar-benar takut akan Tuhan dan berasal dari
DNA rohani yang sama. Bila tidak, kita akan melihat rumah tangga kita lebih dekat
ke neraka dari pada di Sorga. Jangan terjebak dengan umur yang bertambah dan
asal pilih demi sebuah status. Jangan terjebak juga hanya kepada penampilan
luar. Saya sering mendengar banyak orang berkata bahkan termasuk para pendeta,
iya kalau masih lajang, kita bisa ikut Tuhan dengan bebas, kemana saja, pasti
bisa. Kalau sudah beristri tidak bisa, apalagi kalau sudah punya anak.
Sepertinya benar namun Kristus tidak mengajarkan dan menanamkan prinsip itu.
Paulus pun tidak membenarkan hal yang demikian. Kita harus memastikan istri dan
anak kita juga sama-sama haus akan Tuhan dan hidup bagi tujuanNya.
5. Faktor Kepemimpinan Gereja yang
Tidak Bertumbuh
Ada banyak orang yang tulus hati dan
cinta kebenaran dalam gereja namun dipimpin oleh pemimpin yang tidak bertumbuh.
Hanya memiliki pewahyuan dari zaman sekolah Theologia tahun 1960. Akibatnya
tidak bisa membawa jemaat dalam terobosan rohani. Saya tidak menginginkan
pemberontakan atau kudeta. Namun kita tidak bisa terus ada dalam sebuah bisa
yang parkir. Karena sebagus apapun bis itu, tidak akan kemana-mana. Kita tidak
bisa menaiki perahu yang bocor sebab akan tenggelam. Untuk yang sudah
bergereja, pastikan pemimpin kita terus bertumbuh. Dorong pemimpin kita bisa
mengikuti acara yang berbobot dan mengubahkan. Jangan ajak ke sembarang seminar
yang hanya propaganda manusia atau denominasi semata. Untuk yang belum
bergereja pastikan memilih gereja yang bukan sedang parkir dan tidak
kemana-mana.
Dari mana kita tahu gereja tersebut
parkir ? Sederhana dari tahun ke tahun acaranya adalah Kebaktian awal tahun, valentine
day, paskah, retret penjangkauan-KKR, natal. Puluhan tahun seperti itu haruslah
kita bertanya apakah Tuhan tidak bergerak lagi atau kita yang sudah malas untuk
bergerak? Tema kotbah pun tidak beranjak dari berkat, kesuksesan, 7 langkah
menuju berkat, 9 langkah mencapai sukses dan 10 langkah diampuni. Untuk dasar
awal okelah, namun kalau setiap minggu selama 52 minggu topik kotbahnya
berputar seperti itu, apakah Tuhan masih berbicara?
Kekasih Tuhan, mari alami kembali
aliran air kehidupan. Jangan biarkan kolam kita bocor. Jangan kehilangan gairah
terhadap hal-hal yang Ilahi. Kobarkan karunia Allah yang ada pada kita lagi.
Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati maka
Kristus akan bercahaya atasmu.
Biarlah sekali lagi Tuhan
menghembuskan nafas kehidupan supaya kita kembali bergerak dan menjadi tentara
yang besar bagi kerajaanNya. Biarlah kita menjadi tulang kering yang dihidupkan
kembali. Biarlah kita tidak menggenapi seperti kuburan yang dilabur putih
ataupun dikatakan hidup tetapi mati. Pastikan ada nafas kehidupan Tuhan dalam
kehidupan roh kita. Pastikan air itu kembali mengalir dan membual-bual dalam
kehidupan kita.
Saya berdoa untuk setiap pembaca yang
mulai suam, kendor atau kering mulai mengalami kembali gairah
rohani-kebangkitan rohani. Jangan biarkan apapun mengambil apa yang paling
berharga dalam kehidupan kita. Yang paling berharga adalah Tuhan, Tuhan dan
Tuhan. Jangan biarkan apapun mengambil waktu kita terbaik denganNya. Jangan
biarkan apapun menyita perhatian kita lebih dari pada Dia. Jangan biarkan
apapun dan siapaun memutuskan kita dari persekutuan yang hidup denganNya.
Selamat hidup dalam Kehidupan Rohani!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar