Kamis, 22 September 2011

GEREJA YANG INDAH


GEREJA YANG INDAH
Kisah Para Rasul 3:1-10

Kekasih Tuhan, dikisahkan dalam Firman Tuhan mengenai Petrus dan Yohanes yang memasuki Bait Allah yang disebut Gerbang Indah disana didapati seorang yang lumpuh sejak lahir sedang meminta-minta di depan pintu gerbang Bait Suci yang disebut gerbang indah. Orang lumpuh itu berumur kira-kira 40 tahun. Jadi kemungkinan besar sudah puluhan tahun orang tersebut ada disana. Setiap kali ibadah diadakan, ia selalu hadir di gerbang tersebut. Ia bukanlah usher atau penerima tamu. Ia adalah seseorang yang selalu mengharapkan pertolongan.
Ahli Taurat dan para Imam keluar masuk disana, namun orang lumpuh ini tidak pernah mendapatkan sesuatu dari mereka dan tidak pernah mengalami sesuatu. Ketika pujian penyembahan dimulai dan firman diberitakan, orang lumpuh tersebut tetap ada disana dengan setia namun tanpa terjadi sesuatu. Sehingga makin lama orang lumpuh ini menjalani kehidupan sebagai peminta-minta atau yang kita sebut pengemis.
Kekasih Tuhan, inilah kehidupan yang sering menjadi kenyataan ditengah gereja. Kita menjadi gereja yang indah. Alunan music kita bagaikan orchestra dan simfoni yang indah didengar telinga. Ruangan ibadah kita nyaman dengan pendingin ruangan. Mimbar kita terbuat dari fiber dan ada lampu-lampu hias yang indah. Kita memakai teknologi yang canggih untuk sebuah ibadah. Kita tidak perlu lagi menghafal lagu sebab semua lagu sudah ada di layar dan kita tinggal membacanya. Para worship leader menjadi EO yang luar biasa rapih dan tertata indah kata-katanya. Khotbah-khotbah kita menjadi sedemikian lugas, ringan dan enak di dengar. Khotbah kita benar-benar indah seperti para motivator dunia. Gedung yang kita pakai mirip pencakar langit yang kokoh dan sangat dikagumi oleh orang yang melewati gedung tersebut. Para usher dan kolektan berseragam rapih dan kelihatan indah di pemandangan mata. Banner-banner dengan kata-kata yang indah menghiasi kiri kanan tembok dalam ruangan ditambah dengan tema-tema yang luar biasa indah dan mencengangkan. Kita layak disebut bait suci yang indah atau gereja yang indah.
Namun satu hal yang menyedihkan yang lumpuh tetaplah lumpuh. Yang miskin tetaplah miskin. Yang mental pengemis tetaplah menjadi pengemis. Yang penyakitan tetaplah penyakitan. Ibadah dilangsungkan namun sesuatu terobosan dan perubahan sangat jarang terjadi disana. Kita seperti miskin kuasa. Orang yang sama menghadiri ibadah secara teratur namun tetap dalam kondisi masalah yang sama. Kita menyembah Tuhan namun jarang sekali alami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Kita melakukan evaluasi sesering mungkin namun sayangnya perubahan sangat jarang terjadi. Kita membayar para hamba Tuhan namun sayangnya gagal untuk membawa jemaat kepada level pertumbuhan rohani yang seharusnya. Kebencian, perselisihan dan friksi terus terjadi di tengah gereja.
Apakah kita adalah gambaran gereja yang Petrus dan Yohanes masuki? Jangan-jangan Tuhan mencatat Kisah Rasul 3 sebagai WARNING KERAS buat kita untuk tidak menjadi gereja yang indah tersebut.
Atau justru kita membantah apa yang terjadi di tengah kita? Oh tidak, kita sedang bergerak, bahkan banyak yang lumpuh bisa berjalan kembali, orang yang memakai kursi roda bisa bangkit berjalan kembali.
Bagaimana dengan kelumpuhan rohani? Bagaimana dengan roh kemiskianan yang tertanam kuat dalam gereja?
Kekasih Tuhan, kita adalah gereja dan jangan pernah menjadi gereja-gerejaan. Apa yang saya tuliskan tentang fakta gereja sebenarnya itu adalah kumpulan orang yang melakukan ritual agama dan bukan gereja. Sebab gereja adalah produknya Surga. Gereja adalah institusi resmi yang Tuhan bentuk, satu-satunya. Bahkan arti kata gereja adalah EKLESIA, sebuah dewan yang menentukan nasib sebuah kota atau bangsa.
Kita harus kembali kepada Tuhan dan firmanNya. Kita harus bisa melangkah dari kelumpuhan rohani kita. Jangan-jangan kita adalah seseorang yang seperti orang lumpuh di gerbang indah tersebut selama puluhan tahun ada disana dan tanpa terobosan.
KELUMPUHAN ROHANI
Ada banyak orang yang pergi ke gereja namun selama puluhan tahun terus ada dalam kelumpuhan rohani. Mereka tidak bisa mencapai posisi rohani yang seharusnya. Mereka tinggal tetap dalam keadaan yang sama walaupun secara fisik dan materi mereka baik-baik saja.
Saya mendapati inilah beberapa arti kelumpuhan yang seringkali mendera umat Tuhan.
1.       Tidak bisa melangkah dalam Rencana Tuhan.
Kita tahu rencana Tuhan. Kita tahu destiny kita. Kita tahu potensi kita. Kita tahu harusnya bekerja di bidang apa. Namun apa daya kita tidak sanggup melangkah dalam rencana Tuhan. Gereja sekarang ini sangat canggih dalam hitungan 15 menit kita bisa tahu apa destiny kita,  kita bisa tahu panggilan kita dengan mengisi beberapa pertanyaan, namun sayang semua itu menjadikan kita tahu. Ternyata mengerti dan mengetahui saja tidaklah cukup. Kita perlu kuasa untuk bisa melangkah masuk dalam rencana Tuhan.
Sangatlah baik untuk mengerti dan memahami panggilan kita namun dibutuhkan kuasa untuk bangkit dari kelumpuhan rohani sehingga kita bisa memasuki rencana Tuhan dalam hidup kita. Kita bukan butuh pengajar yang cakap memprediksikan sesuatu. Kita butuh kuasa, 1 Kor 4:20  Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa. Kuasa yang membangkitkan kita dari kelumpuhan rohani yang berkepanjangan. Kuasa yang membawa kita bisa sampai ke level hidup dalam apa yang Tuhan rencanakan.

Kekasih Tuhan, sadari keadaan kita. Apakah kita sedang dalam rencanaNya? Apa yang kita kerjakan benar-benar dalam rencanaNya?  Apakah pekerjaan dan bisnis kita ada dalam rencanaNya? Atau kita sedang melakukan rencana kita.
System babel bukanlah bicara tentang kebesaran dan keangkuhan saja. Namun babel berbicara tidak hidup dalam rencana dan kehendak Tuhan. Mereka sepakat, bukankah itu yang Firman Tuhan ajarkan? Mereka bertekad baja, bukankah itu yang Firman Tuhan ajarkan? Mereka ingin membangun sesuatu untuk bisa mencapai Surga, bukankah itu juga yang kita kerjakan?  Namun sayang mereka punya rencana, mereka punya program, mereka punya orang namun TUHAN TIDAK ADA BERSAMA MEREKA. Sebab apa yang mereka bangun TIDAK ADA DALAM AGENDA TUHAN DAN SURGA.  TIDAK ADA DALAM RENCANA TUHAN.
Patikan bahwa kita benar-benar sedang ada dalam rencana Tuhan. Hai para pengkhotbah dan pengajar dalam gereja, ingat, kita butuh kuasa yang membangkitkan orang dari kelumpuhannya sehingga kita bisa membawa mereka berjalan kembali masuk dalam rencana Tuhan.
2.       Tidak bisa melangkah mengikuti Kegerakan Tuhan
Rasa aman dan nyaman membunuh kita untuk mengikuti kegerakan Tuhan. Kita tidak mau repot ganti haluan sebab kita sudah ada dalam kondisi nyaman. Kita tidak mau merubah konsep pikir kita dengan yang baru yang Tuhan wahyukan. Sebab kita ada di tempat yang nyaman.
Gereja kami sudah 25 tahun dan jumlahnya ratusan dan ribuan, kalau kami harus ikuti flow kegerakan Tuhan, bagaimana kalau jemaat berkurang? Kalau kami pakai Pola Tuhan dalam membangun gereja, bagaimana nasib keuangan kami kalau jemaat mengundurkan diri?
Kita mulai menyebutkan dulu kita begini, dulu kita begitu. Kita dulu dulu dulu dulu. Namun sekarang kita sedang stagnasi. Kita sedang mati rohani. Kita sedang sakit rohani. Seharusnya kita minta kuasa Tuhan untuk membangkitkan kita dari kelumpuhan supaya bisa mengikuti kegerakan yang Tuhan sedang lakukan di tengah dunia ini. Minimal kita menyadari keberadaan kita yang sesungguhnya.
Kegemilangan masa lalu tidak bisa menjadi patokan bahwa hari ini kita ada dalam kegerakan yang Tuhan sedang buat. Banyaknya undangan khotbah tidak bisa menjadi ukuran kita sedang ada dalam kegerakan Tuhan. Banyaknya cabang pelayanan yang kita pegang bukanlah ukuran kita sedang dalam kegerakan Tuhan.
Ingat dalam Kisah Rasul 3, Petrus dan Yohanes tidak diundang khotbah disana. Ia bukanlah yang merintis gereja tersebut. Ia tidak pegang pelayanan di gereja tersebut. Namun mereka mengikuti kegerakan Tuhan dalam hidup mereka. Mereka masuk ke bait suci dan membawa kegerakan bagi orang yang lumpuh tersebut. Orang yang hidup dalam kegerakan Tuhan selalu mengerti Tuhan sedang bergerak kemana dan ke arah mana.
Kita butuh kuasa untuk bisa membangkitkan kita dari kelumpuhan sehingga kita bisa mengikuti kegerakan Tuhan. Kita membutuhkan seorang Petrus dan Yohanes, hamba-hamba Tuhan yang dapat membawa kita mengalir dalam kegerakan Tuhan. Gereja membutuhkan semua itu.
3.       Tidak bisa berjalan dalam Roh Kudus
Terus bergerak berdasarkan sesuatu yang manusiawi atau lahiriah adalah menjadi ciri khas gereja masa kini. Maka dari itu sesuatu yang bersifat psikologi/kejiwaan sangat digemari.  Kita berkajang pada kemampuan manusiawi kita. Kita mencari tahu potensi, bakat dan karakter kita.
Namun sayangnya seringkali itu adalah perwujudan dari kelumpuhan kita, dimana kita tidak bisa berjalan dalam Roh. Kita hanya bisa hidup dalam dimensi daging dan kejiwaan. Kita tidak bisa membawa dimensi Roh masuk dalam kehidupan kita.
Betapa kita sangat membutuhkan kuasa Tuhan untuk kita bisa bangkit dari kelumpuhan dan mulai berjalan dalam Roh.
Ketika Roh dicurahkan atas Bezaleel dan Aholiab, Roh memberikan keahlian dan kecakapan khusus. Bukan ketika isi angket dan kuesioner. Ketika Roh tercurah di loteng Yerusalem, Petrus tidak belajar public speaking supaya berani berbicara. Namun Roh membuat Petrus berbicara dengan kuat dan akurat. Ketika Roh tercurah atas Daud membawa Daud memiliki kemampuan untuk menjadi Raja, bukan karena kedekatan dengan Saul.
Bukan berati sekolah, les atau  belajar  dan bekerja itu tidak perlu. BUKAN ITU YANG SAYA MAKSUDKAN.
Namun ini yang saya mau tegaskan, jangan karena kita tidak bisa membawa umat melangkah hidup dalam Roh sebagai gantinya kita cari jalan yang manusiawi atau lahiriah saja. Hal ini sangat berbahaya. Sekali lagi saya tegaskan betapa kita butuh kuasa untuk membawa umat Tuhan tidak berjalan dalam kemanusiawian apalagi kedagingan melainkan berjalan dalam kuasa Roh kudus.
Ingat, 1 Korintus 2:14 kalimat pertama menegaskan bahwa manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah. Dalam KJV but the natural man does not receive the things of the Spirit of God.
Oh betapa kita menjadi sedemikian naturalnya dalam kehidupan rohani kita. Kita dipandu buku-buku untuk bersaat teduh. Bukan karena itu tidak baik. Itu baik namun jangan itu dilakukan karena sudah sedemikian naturalnya kita dalam hidup ini.
Kita dipandu dengan mengerti apakah kita kolerik, melankolik, phlegmatic atau sanguine, bukankah itu natural man? Seharusnya kita bisa minta Roh bekerja sedemikian kuat mengubahkan kita menjadi manusia yang lain. Bukankah itu yang terjadi ketika pencurahan Roh Kudus kita alami?
Kita dipandu untuk mengerti cocoknya kerja dimana, apa potensi kita dan bahkan kita mengisi beberapa pertanyaan untuk kita bisa mengerti apa panggilan atau destiny kita. Bukankah kita menjadi sedemikian natural?  Ini baik namun jangan ini kita lakukan sebagai pengganti doa dan hubungan dengan Tuhan. Bukankah seharusnya semua itu di dapat dalam hubungan kita dengan Tuhan? Itu semua bukan pengganti hidup dalam Roh untuk mengerti kehendakNya.
Kekasih Tuhan, bangkitlah dari kelumpuhanmu. Masuki rencanaNya, ikuti kegerakanNya dan hidup dalam RohNya maka sesuatu yang besar pasti terjadi. Kegoncangan atas sebuah kota pasti terjadi. Kebangkitan kita dari kelumpuhan membuat sebuah kota menjadi “rusuh”.
Umat Tuhan, majulah masuki rencana Nya, jangan lagi hanya duduk manis dalam kumpulan ibadah. Jangan lagi hanya senang tinggal di gerbang bait suci yang indah. Bangkit dari kelumpuhanmu. Tuhan Yesus adalah Allah yang hidup. Alami kuasanya yang membangkitkan engkau dari kelumpuhan.
BERSAMBUNG……….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar